PENGARUH
PENCEMARAN UDARA PADA SISTEM RESPIRASI MANUSIA
Makalah
Disusun
untuk Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen :
Drs. Ramlan A. Gani, M.A.
Oleh :
Ahmad Sholihin Hafi
11161010000107
https://chafiahmad.blogspot.co.id
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI ISLAM SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
A. Pendahuluan
Sistem
respirasi termasuk sistem organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Dalam
sistem itulah proses pernapasan manusia berlangsung. Untuk bernapas pastilah
manusia sangat membutuhkan udara. Maka dari itu udara sangat berpengaruh dalam
sistem respirasi manusia. Apapun kondisi udara akan berpengaruh besar terhadap
kondisi sistem respirasi itu juga. Jika udara itu bersih maka sistem respirasi
juga akan sehat. Sebaliknya, jika udara itu kotor dan tercemar maka sangat
mungkin sistem respirasi juga akan kotor dan rusak. Dalam hal ini akan dibahas
mengenai pengaruh pencemaran udara terhadap sistem respirasi manusia.
B. Atmosfer
Atmosfer
adalah lingkungan udara, yakni, udara
yang meliput planet bumi ini. Di sekitar bumi ada 5.8 miliar ron udara.
Atmosfer terdiri atas beberapa lapisan yang terbentuk karena adanya interaksi
antara sinar-sinar matahari, gaya tarik bumi, rotasi bumi, dan permukaan bumi.
Lapisan-lapisan atmosfer tersebut antara lain :
Lapisan
|
Suhu (˚C)
|
Altitud (KM)
|
Unsur Kimia Utama
|
Troposfir
|
15 - (-)56
|
0 - 11
|
N2, O2, CO2,
H2O
|
Stratosfir
|
(-)56 - (-)2
|
11 - 50
|
O2
|
Mesosfir
|
(-)2 - (-)92
|
50 - 85
|
O2+, NO+
|
Thermosfer
|
(-)92 - 1200
|
85 - 500
|
O2+, O+,
NO+
|
Sumber
: Manahan, Stanley E., 1972, h. 285 (1)
Udara
yang masih bersih merupakan campuran berbagai gas: Nitrogen (78%), Oksigen
(0.94%), Karbondioksida (0.03%), Helion; Neon; Xenon; Kripton (0.01%) dan
sedikit sekali Metana; Amoniak; dan Hidrogen sulfida.
C. Pengaruh Udara Terhadap
Kesehatan
Manusia
setiap detik, selama hidupnya akan membutuhkan udara. Secara rata-rata manusia
tidak dapat mempertahankan hidupnya tanpa udara lebih dari tiga menit. Karena
udara berbentuk gas, ia terdapat dimana-mana, sebagai akibatnya manusia tidak
pernah memikirkannya ataupun memperhatikannya. Sampai pada tahun 1930 di Belgia
terjadi wabah penyakit paru-paru yang disebabkan pencemaran udara. Tahun-tahun
berikutnya pencemaran udara menyebabkan terjadinya kematian dan kesakitan dalam
proporsi epidemik di beberapa tempat di dunia. Tabel di bawah ini
memperlihatkan beberapa bencana akibat udara, berdasarkan lokasi, sumber
pencemaran, serta korban pencemaran.
Beberapa
Bencana Pencemaran Udara yang Terkenal
Lokasi
|
Sumber/Jenis Pencemaran
|
Jumlah penderita/Kematian
|
Kelaianan
|
Meuse Velley Belgia, 1930
|
Industri baja, dll./SO2, F, Oxida
logam, debu
|
6000/60
|
Peradangan jaringan paru-paru
|
Donora,USA, 1949
|
Industri baja, dll./ SO2, sulfat
|
5910/20
|
Kelainan jaringan paru-paru
|
London, 1952
|
Industri, pemanasan rumah
|
Tidak diketahui/4000
|
Kelainan jaringan paru-paru
|
Poza Rica, Mexico, 1950
|
Kilang minyak
|
320/22
|
Kelainan paru-paru, susunan
syaraf pusat
|
New York, USA, 1953
|
Industri, kendaraan bermotor,
pemanasan rumah
|
Morbiditas naik/165
|
Kelainan paru-paru dan jantung
|
New Orleans USA, 1955*
|
Industri gandum
|
200 per hari/2
|
Asthma
|
Yokohama, Jepang, 1946*
|
Industri gandum, pemanasan rumah
|
Tidak diketahui
|
Asthma, ephysema
|
Sumber
: Purdom, Walton P, 1971, h. 242, 243 (3), dan *) Soemirat, Juli, 1971 (4)
Tabel
tersebut memperlihatkan bahwa penyakit yang dikonstatir kebanyakan tergolong
penyakit saluran pernapasan. Hal ini
mudah dimengerti, karena udara memasuki tubuh lewat saluran pernapasan.
Sekalipun demikian, pencemaran udara dapat mengakibatkan penyakit pada seluruh
bagian badan baik karena kontak langsung maupun tidak langsung.
Selain
itu sifat zat pencemar akan menentukan jaringan tubuh yang akan terkena
penyakit, misalnya urat syaraf. Pada
kasus yang disebutkan di dalam tabel tadi kebanyakan penderita sebelum terjadi
pencemaran udara, memang telah menderita penyakit, baik penyakit paru-paru
maupun penyakit jantung. Jadi, pencemaran udara memperberat keadaan penyakitnya
ataupun membuat saluran pernapasann menjadi lebih peka terhadap penyebab
penyakit.
Untuk
dapat mempelajari pengaruh kualitas udara terhadap kesehatan maka udara perlu
dibagi kedalam dua bagian, yakni, udara bebas dan udara tak bebas. Udara bebas
adalah udara yang secara alamiah ada disekitar kita, sedangkan udara tak bebas
adalah udara yang berada di dalam bangunan-bangunan seperti perumahan,
sekolah, rumah sakit, sumur-sumur, dan
tambang-tambang.
1.
Udara
Bebas
Udara
bebas yang ada di sekitar manusia dapat berpengaruh terhadap kesehatan
masyarakat. Pengaruh tersebut dikelompokkan menjadi pengaruh langsung dan tidak
langsung.
a.
Pengaruh
Tidak Langsung
Pengaruh
udara bebas secara tidak langsung merupakan pengaruh terhadap kesejahteraan
masyarakat. Misalnya, nitrogen di dalam udara dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku pupuk urea dengan menggunakan proses Haber. Pupuk urea meningkatkan
produksi di bidang pertanian; dengan demikian kesejahteraan masyarakat akan
meningkat. Pengetahuan tentang adanya berbagai gelombang elektromagnetis di
dalam udara didayagunakan sebagai sumber energi surya, komunikasi lewat
gelombang mikrowave, gelombang radio, dan sebagainya. Aliran udara
didayagunakan manusia untuk angkutan, energi angin, dan reaksi. Kesemuanya ini
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara materiil maupun spiritual.
Dan secara tidak langsung dapat meningkatkan kesehatan masyarakat.
b.
Pengaruh
Langsung
Pengaruh
udara yang langsung terjadi karena proses pernapasan dan kontak seluruh anggota
tubuhnya dengan udara. Pengaruh udara terhadap kesehatan sangat ditentukan oleh
komposisi kimia, biologis maupun fisis udara. Pada keadaan normal, sebagian besar udara terdiri
atas oxigen dan nitrogen (90%). Aktivitas manusia dapat mencemari udara seperti
industri, kendaraan bermotor, dan pembakaran di rumah-rumah dan ladang-ladang.
Pengaruh terhadap kesehatan akan tampak apabila kadar zat pengotor meningkat
sedemikian rupa sehingga timbul penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Zat-zat pencemar sebagai akibat aktivitas
manusia ini dapat digolongkan pada (i) zat kimia, (ii) zat fisis, dan (iii) zat
biologis.
Zat
pencemar kimia yang paling banyak didapat adalah berupa karbon monoxida, oxida
sulfur, oxida nitrogen, hidrokarbon, dan partikulat. Selain itu konsentrasi
karbon dioxida meningkat. Pengaruh zat kimia pertama-tama akan ditemukan pada
sistem pernapasan dan kulit serta selaput lendir; selanjutnya apabila zat
pencemar dapat memasuki peredaran darah, maka efek sestematik tak dapat
dihindari.
Zat
pencemar fisis yang banyak didapat adalah kebisingan, sinar ultra violet, sinar
infra merah, gelombang mikro, gelombang elektromagnetik, dan sinar-sinar radio
aktif. Sedangkan zaat biologis yang banyak didapat di dalam udara bebas adalah
virus, dan spora; bakteria, virus, jamur, dan cacing seringkali didapat di
dalam udara tidak bebas.
2.
Udara
Tidak Bebas
Udara
tidak bebas adalah udara yang didapat di dalam ruangan gedung-gedung, seperti
rumah, pabrik, bioskop, sekolah, rumah sakit dan lain-lainnya. Udara tidak
bebas didapat pula di dalam sumur-sumur dan tambang-tambang. Kualitas dan
kuantitas udara tidak bebas seringkali ditentukan oleh penghuni gedung secara
sengaja ataupun tidak sengaja. Apabila udara tidak bebas itu tercemar, maka
efeknya akan sangat nyata; karena aliran udara tidak bebas, maka pencemar
mempunyai banyak kesempatan untuk masuk ke dalam tubuh penghuni dan dalam
konsentrasi yang ada di dalam udara tersebut.
D. Pencemaran Udara
1.
Atmosfir
bumi
Udara
tidak pernah bersih, mungkin sebelum manusia ada. Benda-benda asing seperti abu
gunung api, bakteri, tepung sari, spora, partikel garam dari laut dan debu
kosmis dari luar angkasa telah mencemariudara sejak. Jika terlalu banyak
partikel asing di atmosfir, maka daur normal akan terganggu. Keseimbangan
biosfer perlu dipertahankan. Setiap saat kita, manusia dan makhluk lain,
memerlukan oksigen untuk respirasi. Hanya spesies anaerob yang tidak memerlukan
oksigen.
2.
Ciri
dan sebab pencemaran udara
Pencemaran
udara ialah jika udara di atmosfer dicampur dengan zat atau radiasi yang
berpengaruh jelek terhadap organisme hidup. Jumlah pengotoran ini cukup banyak
sehingga tidak dapat diarbsorpsi atau dihilangkan.
Pencemaran
udara dapat digolongkan ke dalam tiga kategori; yang pertama ialah pergesekan
permukaan, kedua ialah penguapan, dan ketiga
ialah pembakaran. Pergesekan permukaan adalah penyebab utama pencemaran
partikel padat di udara dan ukurannya dapat bermacam-macam. Penggergajian,
pengeboran, atau pengasahan barang-barang seperti kayu, minyak, aspel, dan baja
memberikan banyak partikel ke udara.
Penguapan
merupakan perubahan fase cairan menjadi gas. Penyubliman juga dapat menambah
uap di udara. Polusi udara banyak disebabkan zat-zat yang mudah menguap, sperti
pelarut cat dan perekat. Demikian pula terjadi uap pencemar jika ada reaksi
kimia pada suhu tinggi dan tekanan rendah. Industri yang berhubungan dengan
cat, logam, bahan kimia, atau karet banyak memberikan pencemaran ini. Jika
uap-uap ini berkondensasi akan tampak pada kita dan bertimbun mengotori
ruangan.
Pembakaran
merupakan reaksi kimia yang berjalan cepat dan membebaskan energi, cahaya atau panas. Pada pembakaran banyak
menggunakan oksigen dan menghasilkan berbagai karbon diokasida. Bahan bakar
yang umumnya digunakan ialah kayu, batu bara, kokas minyak, semuanya adalah
berasal dari alam. Semuanya mengandung karbon, banyak yang molekul-molekulnya
besar. Pada peristiwa pembakaran dihasilkan senyawa karbon dioksida dan air.
Disamping itu juga ada arang atau jelaga.
E. Pengaruh Polusi Udara terhadap
Penyakit Saluran Pernapasan (studi in vivo).
1.
Pengaruh
NO2.
Efek
NO2 terhadap pasen asma dan individu normal tidak konsisten.
Beberapa peneliti menyatakan konsentrasi NO2 rendah mampu
meningkatkan reaktivitas saluran pernapasan terhadap paparan farmakologis atau
udara dingin, sedangkan penelitian lainnya tidak menemukan hal demikian. Namun
kadar NO2 lebih tinggi (4.0 ppm) telah dilaporkan dapat menghambat
fungsi pernapasan pasen asma. Pada
individu normal NO2 kurang kuat dalam menimbulkan akumulasi
neutrofil dibandingkan ozon, tetapi telah terbukti meningkatkan produksi
sitokin pro-inflammatory.
Studi
komparatif lain tentang pengaruh NO2 menunjukkan bahwa angka infeksi
pada penderita asma yang tinggal di lingkungan atmosfer dengan kadar NO2
tinggi (>30 ppb) lebih tinggi dibandingkan dengan angka infeksi pada
penderita yang tinggal di lingkungan atmosfer dengan atmosfer NO2
rendah (<30 ppb). Namun demikian untuk penyakit atopik dan campuran
asma-infeksi tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Hal ini memberi arti polusi
NO2 berperan terhadap meningkatnya penyakit infeksi, namun tidak
meningkatkan penyakit asma/atopi.
2.
Pengaruh
Ozon “in vivo”.
Pada
individu normal, ozon menyebabkan penurunan FVC (Forced Vital Capcity) dan FEV1
(Forced Expiratory Volume 1 s), meningkatkan hiperresponsifitas bronkial
non-spesifik, nyeri substernal pada inspirasi dalam yang reversibel. Efek ozon
ini bergantung pada konsentrasi ozon, lamanya paparan, dan tingkat latihan
fisik (exercise). Paparan ozon kadar rendah (dibawah 0.50 ppm), tanpa latihan
fisik tidak mengganggu fungsi paru-paru. Namun dengan latihan fisik, ozon
menginduksi peningkatan frekuensi napas, dan konsentrasi ozon yang diperlukan
untuk menurunkan FEV1, FVC, airway resistance, dan gejala, dapat
lebih rendah.
Dengan
latihan fisik lebih berat (30 L/men/m2), dan terpapar ozon dosis
tinggi (0.4 ppm) selama 2 jam, terjadi perubahan lebih besar pada pasen asma
dibanding individu normal. Hiperresponsifitas non spesifik (terahadap rangsangan
dingin), pada subjek yang telah dipapar ozon, juga meningkat, bahkan sampai
menimbulkan bronkospasme. Dengan demikian ozon telah terbukti secara langsung
memperburuk aliran udara napas pada asma.
3. Pengaruh Sulfur dioksida (SO2).
Tidak
seperti polutan lain, SO2 menimbulkan efek cepat terhadap fungsi
paru-paru penderita asma; respon nyata berlangsung dalam dua menit pertama, dan
respon maksimal terjadi 5-10 menit pasca paparan. Perbaikan kembali ke asal
terjadi secara spontan dalam 30 menit sampai 4 jam pasca paparan.
Paparan
berulang dengan SO2 dosis rendah (0.2 ppm) tidak menimbulkan gejala
respon alergis. Tetapi dengan latihan fisik berulang paparan SO2 tersebut
menimbulkan peningkatan responsifitas saluran pernapasan. Sedangkan pada dosis
yang lebih tinggi (0.5 ppm) terjadi bronkospasme pada pasen asma. Latihan fisik
dapat menigkatkan hiperresponsifitas bronkus terhadap SO2, dan
kombinasi latihan fisik dan SO2 adalah napas berbunyi, rasa tidak
enak di dada, dan sesak.
Sangat
menarik, pernapasan hidung melindungi efek SO2 terhadap paru-paru,
karena gas ini yang mudah larut dalam air diabsorbsi sangat efektif pada mukosa
hidung. Hal ini dapat menerangkan mengapa latihan fisik dapat meningkatkan
efeknya, karena kebanyakan orang, pada laithan fisik dengan ventilation rates 35 L/ menit, merubah
pernapasan hidung menjadi pernapasan mulut. Sebenarnya bagi yang terlatih pada
latihan fisik sekalipun, 60% udara pernapasan masih dapat melewati mukosa
hidung. Melalui mekanisme inilah pasen asma yang juga rinitis alergis atau
sinusitis, yang lebih banyak pernapasan mulut, terjadi penurunan pengurangan
kontak udara napas dengan mukosa hidung, sehingga efek SO2 terhadap
paru-paru menjadi meningkat.
4. Pengaruh gaya hidup (life style).
Gaya
hidup yang banyak berubah pada masyarakat industri merupakan salah satu faktor
peningkat prevalensi penyakit infeksi alergis. Faktor-faktor tersebut berupa
perubahan makanan yang penuh zat aditif, pemakaian material bangunan modern,
penyekat bangunan, metode kontruksi, dan pembangunan kontruksi yang berjalan
sepanjang tahun. Demikian juga pemasangan karpet dalam kamar, pemakaian lebih
banyak bahan kimia di rumah, peningkatan humiditas dalam rumah, serta lebih
banyak waktu di dalam rumah ketimbang bepergian atau mencari lingkungan yang
baru dan lebih segar, merupakan faktor-faktor yang berperan penting dalam
meningkatnya penyakit alergis.
F.
Kesimpulan
Manusia
dan udara tidak akan pernah bisa dipisahkan. Karena manusia bernapas dengan
udara. Jadi manusia tidak bisa hisup tanpa udara. Udara sangatlah banyak
menyelimuti bumi ini. Di dalam udara itu sendiri terkandung banyak gas yang
bermacam-macam. Jika udara itu bersih maka kandungan gas yang ada di dalam
udara itu tidak akan membahayakan manusia karena jumlahnya stabil. Dan jika udara
itu kotor dan tercemar maka kandungan gas yang ada di dalam gas tidak akan stabil dan sangat membahayakan
manusia terutama pada sistem pernapasan manusia. Karena sistem pernapasan
manusia langsung berkontak dan menghirup udara tersebut. Maka dari itu pencemaran
udara dapat menimbulkan berbagai masalah pada sistem respirasi atau pernapasan
manusia.
Bibliography
Slamet,
Juli Soemirat. 2007. Kesehatan Lingkungan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sastrawijaya, A. Tresna. 2000. Pencemaran Lingkungan.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Munarman,
Iwin. 2007. Manusia, Kesehatan dan Lingkungan. Bandung: P.T. Alumni

good
BalasHapus